adityarizki.net
18Jul/14

Semarak Demokrasi 2.0: Membedah Partisipasi Netizen dalam Pilpres 2014

Ilustrasi diambil dari: www.masternewmedia.org

Ilustrasi diambil dari: www.masternewmedia.org

Masa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 tak lama lagi akan usai. Pesta rakyat yang diadakan lima tahunan itu menjadi sebuah hajatan yang ramai diperbincangkan. Sebuah hajatan yang tidak hanya diminati oleh orang-orang yang gemar berpolitik, tetapi juga oleh rakyat biasa. Riaknya telah melahirkan gagasan-gagasan yang menarik dari para netizen di segala penjuru. Denyut pembahasan Pilpres di dunia internet dan jejaring sosial kali ini lebih kencang jika dibandingkan dengan pembahasan seputar Piala Dunia 2014. Peristiwa ini sepertinya akan terus memanas hingga KPU mengumumkan Presiden RI terpilih berdasarkan hasil Real Count.

Ada yang menarik pada Pilpres kali ini. Kursi presiden RI hanya ditentukan oleh dua kubu pasangan, yaitu kubu Prabowo dan Jokowi. Sebuah pilihan rawan dan mematikan. Jika salah satu menang, maka pasangan yang lain otomatis kalah. Keduanya mempunyai peluang yang sama, juga memiliki basis pemenangan yang sama kuat. Dari hasil survei pra pencoblosan, perbedaan simpang suara kedua capres diprediksi tidak akan terpaut jauh.

Namun, bukan urusan politik kedua pasangan yang akan saya bahas disini. Sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, partisipasi rakyat juga merupakan salah satu barometer kesuksesan sebuah sistem yang demokratis. Perkembangan zaman yang bergerak menuju era kemudahan dan keterbukaan akses informasi telah menciptakan cara-cara baru untuk berpartisipasi. Jika di dalam teori internet dan teknologi web dikenal istilah Web 2.0, maka bentuk demokrasi sekarang bisa dianalogikan sebagai Demokrasi 2.0. Pada versi 1.0, pengertian demokrasi bisa mewakili cara-cara partisipasi rakyat yang konvensional. Belum memanfaatkan teknologi populer seperti internet dan media digital untuk berkampanye.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
29Jun/14

Seni dalam Rupa Digital: Mengkaji Pameran Art Jog 2014

Boneka selamat datang di ArtJog 2014 "Legacies of Power"

Boneka selamat datang di ArtJog 2014 "Legacies of Power"

Sebuah gagasan untuk melahirkan ruang pamer karya seni yang membaur (immersive) melalui teknologi mixed reality.

Siang itu panas begitu terik. Parkiran di depan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tampak tidak begitu ramai. Saya mengunjungi pameran seni rupa tahunan Art Jog 2014 yang bertajuk "Legacies of Power".  Art Jog adalah festival, pameran, dan pasar seni rupa kontemporer yang digelar tahunan yang biasanya digelar di TBY. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi gelaran Art Jog. Sebelumnya, saya juga pernah mengunjungi pameran seni kontemporer Art Jog 2013 dengan tema "Maritime Culture".

Jika pada gelaran Art Jog sebelumnya tidak dipungut biaya, gelaran kali ini dipungut biaya tiket masuk sebesar Rp 10000 per orang (baca: Hari Ini ArtJog 2014 Pamerkan Karya 103 Seniman). Menurut panitia, diberlakukannya tiket masuk tersebut adalah  bagian dari mendidik panitia dan juga masyarakat umum untuk lebih menghargai karya seseorang.

Dari gerbang pintu TBY, sekumpulan boneka karung goni berdiri berjajar pada sebuah panggung yang memiliki banyak anak tangga. Boneka-boneka tersebut memperagakan beragam rupa dan ekspresi. Sebuah panggung yang memang dipajang sebagai sajian selamat datang kepada para pengunjung Art Jog 2014.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
15Jun/14

Menyelamatkan Indonesia

Mengenal Jokowi tidak terlepas dari pengalaman saya bertemu dengan Jokowi. Saya masih ingat ketika Jokowi tiba-tiba hadir di tengah-tengah penonton Rock in Solo (RIS) 2013. Saya kebetulan ikut menonton acara itu. Yang tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang gubernur Jakarta menyempatkan hadir berjalan kaki memasuki venue dan ikut berkerumun diantara metalhead tanpa pengawalan yang ketat. Ia berjalan dan terus diikuti oleh pendukungnya untuk diwawancara dan meminta foto bareng. Saya pun dengan leluasa mudah untuk mengambil gambarnya. 

Jokowi hadir di Rock in Solo 2013

Jokowi hadir di Rock in Solo 2013

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, dalam sebuah perbincangan di kedai kopi, saya diajak beberapa orang teman untuk mengobrol dan diskusi santai. Disana ada Mas Puthut, Mas Danu, dan juga Mas Randi. Kami membincangkan banyak hal saat itu. Kebetulan topik yang sedang populer adalah pengangkatan Jokowi sebagai gubernur Jakarta yang baru.

Kami merasakan bahwa Jokowi adalah sebuah fenomena baru di Indonesia. Ketika bangsa ini sedang krisis figur pemimpin yang dipercaya, Jokowi muncul sebagai sosok yang berbeda. Di balik badannya yang kecil dan kurus itu, ia mulai dielu-elukan rakyat melalui gayanya saat melakukan blusukan. Dengan blusukan itulah ia dekat dengan rakyat karena ia merasa bahwa 'manusia harus dimanusiakan'.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
3Jun/14

Anak-Anak Revolusi

2014603093953

Saya tidak punya latar belakang sebagai seorang aktivis. Saya pun belum pernah sekalipun terjun ke dalam dunia aktivis. Sebuah medan yang seringkali berbahaya dan sarat kepentingan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Namun, membaca kiprah hidup seorang Budiman Sudjatmiko, seorang aktivis mahasiswa tahun 98, dalam bukunya yang berjudul Anak-Anak Revolusi, saya seperti sedang mengikutinya dari jauh.

Buku ini tak lebih dari sebuah autobiografi yang menceritakan pengalaman penulis saat menjalani kehidupannya sebagai aktivis. Gaya berceritanya mengikuti gaya bercerita novel dengan alur maju-mundur. Memisahkan bagian Cakar Cakar Revolusi sebagai pengantar awal bab, kemudian masuk menuju subbab-subbab bahasan. Seperti halnya buku autobiografi yang lain, penulis menuliskan hal-hal baik dan berkesan tentang dirinya. Budiman mengambil posisi sebagai seorang revolusioner yang telat jatuh cinta dan memiliki pola pikir seorang intelektual. Seseorang yang mencoba untuk bersikap 'romantis' dengan buku-buku yang pernah dibacanya dan begitu terpikat dengan lantunan lagu-lagu kesukaannya.

Banyaknya catatan kaki yang menghiasi buku ini semakin menambah kaya informasi-informasi penting yang ada didalamnya. Tidak hanya ilmu-ilmu sosial yang mencoba dituliskan dalam buku ini, tetapi kajian-kajian sains juga seringkali disinggung. Judul dan lirik lagu, puisi, dan kata-kata motivatif yang melingkupi sekujur buku ini membuat buku ini menjadi lebih 'berisi'. Saya pikir bukan hal yang mudah untuk menulis dengan menambahkan banyak perbendaharaan pengetahuan yang disertai dengan sitasi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengacu ke berbagai referensi jika ia tidak rajin membaca dan mengingat-ingat sesuatu yang berkesan, kemudian merangkaikannya dalam sebuah rangkaian cerita yang dibuatnya sendiri.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS