adityarizki.net
14Mar/14

Padan Kata-Kata Ilmiah dalam Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia

Dalam menulis sebuah artikel ilmiah, seringkali kita mendapati istilah bahasa Inggris yang sulit diartikan ke dalam bahasa Indonesia meskipun kita mengerti maksudnya. Jika terpaksa diterjemahkan menggunakan buku kamus umum English-Indonesia atau layanan seperti Google Translate seringkali tidak sesuai. Satu-satunya jalan pintas adalah dengan tetap menuliskan istilah asing tersebut diantara kata-kata berbahasa Indonesia.

Sebenarnya jika kita ingin mengetahui makna istilah tersebut secara mendetail, kita bisa menggunakan kamus istilah Bahasa Inggris, seperti kamus Oxford Dictionary ataupun Cambridge Dictionary. Namun, masalahnya penjelasan di dalam kamus istilah tersebut biasanya terlalu panjang. Kamus tersebut lebih cocok digunakan untuk memahami konteks penggunaan sebuah kata dalam Bahasa Inggris karena biasanya disertai dengan contoh penggunaan, sinonim, juga cara membaca kata tersebut.

Lalu bagaimana kita bisa mengartikan sebuah istilah ilmiah bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia? Saya percaya bahwa Bahasa Indonesia menyimpan kosakata yang begitu kaya. Jikapun kita tidak tahu padan kata sebuah istilah Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia mungkin karena kita tidak terbiasa menggunakan atau mendengar istilah-istilah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sangat menyedihkan. Bahkan luput dari pelajaran-pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dini. Merasa memiliki, tetapi tidak berusaha melestarikan.

Bagi saya tulisan yang baik adalah tulisan yang konsisten, tidak terlalu banyak menggunakan istilah asing jika memang bisa diterjemahkan dengan benar. Dengan begitu kita bisa sama-sama belajar membiasakan diri menggunakan kosakata Bahasa Indonesia yang enak didengar dan mudah dipahami. Sekaligus menjaga dan melestarikan penggunaan kata yang jarang kita dengar di dalam kehidupan, apalagi bagi kita yang merasa terdidik dan mengenyam pendidikan sekolah, yang tak bisa dimungkiri sering berhadapan dengan hal-hal ilmiah dan akademis.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
1Mar/14

Pemodelan Lingkungan dan Objek dengan SLAM (Simultaneous localization and mapping)

Untuk menciptakan sebuah teknologi yang berbasis konteks (context-aware technology), diperlukan sebuah tools yang dapat mendeteksi suatu kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan harus dikenali terlebih dahulu agar bisa menentukan sebuah aplikasi bekerja pada kondisi-kondisi tertentu. Salah satu teknik untuk menentukan kondisi lingkungan tersebut yaitu dengan melakukan lokalisasi dan pemetaan sebuah lingkungan.

Lingkungan yang dimaksud disini tidak hanya berbatas pada lingkungan yang sudah pernah dikenali. Namun, juga meliputi lingkungan yang sebelumnya belum pernah dikenali. Dalam hal ini, tentu setiap lingkungan memiliki kompleksitas dan detail yang berbeda-beda. Untuk itu, tools tersebut harus dapat melakukan pemetaan berdasarkan lingkungan yang ada secara real time, simultan, dan otomatis.

Salah satu teknik lokalisasi dan mapping yang terkenal saat ini adalah SLAM (Simultaneous Localization and Mapping). Wikipedia menjelaskan SLAM sebagai berikut:

"a technique used by robots and autonomous vehicles to build up a map within an unknown environment (without a priori knowledge), or to update a map within a known environment (with a priori knowledge from a given map), while at the same time keeping track of their current location."

Dari definisi di atas, SLAM berkaitan dengan bagaimana membangun sebuah peta dari suatu lingkungan yang tidak diketahui sebelumnya melalui sebuah robot bergerak, yang pada saat yang sama melakukan navigasi pada lingkungan tersebut. Buku "SLAM for Dummies" menjelaskan bahwa SLAM bukanlah merupakan sebuah algoritma tunggal, melainkan sebuah konsep utuh yang didalamnya memuat banyak algoritma yang bekerja secara bersama-sama (hybrid) pada kondisi-kondisi tertentu.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
19Feb/14

Menuju Transformasi Indonesia yang Edukatif Melalui eMuseum

Indonesia dikenal sebagai negara puspawarna yang meliputi banyak suku, budaya, sejarah, dan kekayaan alam yang beraneka rupa. Kemajuan Indonesia pasca kemerdekaan pun tidak terlepas dari serentetan tragedi masa lalu. Sejarah meninggalkan jejak-jejak yang terkadang masih dapat kita telaah. Soekarno, presiden pertama RI, pernah mengatakan “jangan sekali-kali melupakan sejarah!”. Sebuah ungkapan bernas yang menyiratkan bahwa sejatinya sejarah menjadi penting karena kita selalu belajar darinya sebagai bahan refleksi. Sejarah membentuk masa depan yang seharusnya bisa lebih baik.

Tak bisa dimungkiri, kita telah belajar sejarah bahkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Buku-buku sejarah telah membius generasi muda agar serta merta dapat memahami isi buku tersebut, tanpa memahami jejaknya secara fisik. Padahal proses pembelajaran terbaik salah satunya adalah dengan mengamatinya secara langsung. Banyak ruang publik yang dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan ‘belajar sambil bermain’ (edutainment). Salah satunya adalah belajar dari museum.

Museum diartikan sebagai sebuah gedung atau tempat yang digunakan untuk memamerkan secara tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu. Museum juga merupakan lingkungan yang menarik untuk mempelajari sejarah karena pengunjung dapat secara langsung mengamati benda-benda peninggalan masa lampau. Banyak informasi yang terkandung di setiap objek museum yang masih jarang dan belum kita ketahui secara detail ketimbang sekadar mengamatinya secara fisik karena terbatasnya ruang informasi yang dapat ditampilkan di ruang pamer museum.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
27Jan/14

Tagar Berjalan

Pagi masih tampak buta, sementara ayam sudah berkokok. Saya terbangun karena alarm di ponsel cerdas berbunyi. Tubuh masih agak malas beranjak dan kepala masih kaku. Mata sudah mulai terbuka, tetapi lebih memilih untuk menatap layar ponsel cerdas. Ada sebuah pesan masuk, tiga email yang belum dibaca, serta lima gamitan Twitter terbaru. Semua isi notifikasi tersebut segera saya baca satu per satu. Namun, Twitter selalu membuat saya penasaran atas siapa yang terakhir kali menggamit.

Twitter memang gila. Sekarang ada 4500 tweets yang mengalir setiap detik. Sampai tulisan ini dibuat setidaknya sudah terdapat 500 juta lebih akun Twitter di seluruh dunia. 60% pengguna Twitter mengakses Twitter melalui ponsel cerdas setiap waktu. Twitter bagaikan miniatur pembicaraan orang-orang di seluruh dunia. Setiap orang bisa saja mempunyai lebih dari satu akun. Akun boleh dibuat asli atau anonim.

Dulu saya membuat Twitter pun karena teman-teman yang lain adalah pengguna Twitter. Banyak orang punya Twitter. Barrack Obama punya Twitter. Belum lama ini, Presiden SBY akhirnya punya Twitter. Selebriti punya Twitter. Pemain sepakbola sejagad punya Twitter. Setiap komunitas punya akun Twitter. Menteri, kiai, ustaz, sampai motivator kondang punya Twitter. Figur terkenal, rakyat biasa, bahkan manusia tanpa identitas asli (anonim) pun punya akun Twitter. Tak punya Twitter dianggap gagap teknologi. Twitter bagai virus, menular dari satu orang ke orang yang lain.

Semua orang bisa mencurahkan gagasan-gagasannya ke dalam kotak input Twitter. Twitter tak seperti blog. Jack Dorsey, pendiri Twitter, hanya membatasi 140 karakter untuk sekali twit. Menarik. Kata-kata jadi senjata utamanya. Ada akun yang sesekali bercanda, ada akun yang gemar menyampaikan kalimat kuotasi, ada akun yang rajin berbagi pengetahuan, ada pula yang suka melempar pertanyaan-pertanyaan kritis. Itu berlangsung selama 24 jam tanpa henti.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
17Jan/14

Pagi Pertama

Jogja kembali gugup menjelang pergantian tahun. Isu-isu kemacetan di sepanjang jalan utama Jogja menjadi topik panas yang selalu dikaitkan dengan banyaknya pelancong yang berkunjung ke Jogja akhir-akhir ini. Menurut beberapa orang, hal tersebut sudah tak terkendali jumlahnya. Bagi orang yang sudah cukup lama berdomisili di wilayah Jogja, seperti saya, keadaan tersebut bisa disiasati dengan beberapa alternatif. Tidak merayakan tahun baru secara meriah atau pergi ke tempat lain yang bukan merupakan jantung kota.

Siang itu Jogja diguyur hujan. Saya sedang menyelesaikan makan siang setelah dikabari teman-teman PASTE 12 yang sudah menunggu kedatangan saya. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya saya memilih untuk menyusul mereka pada sore harinya. Mungkin ini adalah satu-satunya perayaan tahun baru saya bersama teman-teman. Di tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah merayakan tahun baru seperti ini.

Rasanya sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Kaliurang. Kali terakhir saya menuju Kaliurang adalah saat saya diajak makan sate kelinci (yang banyak dijual di sekitar villa dan taman di Kaliurang) oleh seorang teman. Itu terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu. Sebelumnya saya pernah dua kali menginap disana. Yang pertama adalah acara makrab jurusan. Yang kedua adalah makrab teman-teman mahasiswa Yogya yang dulu satu SMA.

Hawa di Kaliurang sudah pasti akan sangat dingin. Sore itu hujan masih turun dengan setia. Saya kenakan jaket dan jas hujan untuk menuju ke Kaliurang. Perjalanan sore itu terasa mengasyikkan. Hawa dingin disertai dengan hujan kecil mengiringi perjalanan saya dari Jalan Kaliurang bawah menuju Kaliurang atas menggunakan sepeda motor. Saya jadi ingat rute yang seringkali saya lewati saat KKN dulu. Rute menuju Kecamatan Cangkringan, salah satu daerah di lereng Merapi paling bawah yang kurang lebih berjarak 15km dari punca Merapik. Perjalanan yang semakin ke utara semakin senyap dan hijau. Jika cerah, maka hamparan Gunung Merapi akan menjulang gagah dan tinggi.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS